Senin, 19 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Tumbuh Kembang AchaTumbuh Kembang Acha
Tumbuh Kembang Acha - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Nostalgia Nge-gebok vs Realita Gentle Parenting: O...

Nostalgia Nge-gebok vs Realita Gentle Parenting: Ortu Baru Pilih Mana?

Dulu kita digebok, sekarang kita disuruh gentle parenting. Ortu baru sering bingung di tengah dua kutub ini. Cerita dan panduan praktisnya di sini.

Nostalgia Nge-gebok vs Realita Gentle Parenting: Ortu Baru Pilih Mana?

Beberapa minggu lalu gue lagi ngobrol sama ibu gue sambil nemenin anak gue makan. Anak gue, usia dua tahun, tiba-tiba lempar sendoknya ke lantai. Spontan ibu gue bilang, "Awas ya, dulu kamu kalau begini langsung gue cubit." Gue cuma bisa senyum kecut. Di satu sisi gue ngerti banget kenapa ibu gue dulu ngelakuin itu — dia capek, dia sendirian, dan zaman itu memang nggak ada yang namanya gentle parenting di grup WhatsApp.

Tapi di sisi lain, gue yang sekarang ini punya timeline Instagram penuh akun parenting yang ngajarin buat validasi perasaan anak, ngatur napas, dan ngeliat perilaku anak sebagai "komunikasi". Dua dunia ini nabrak di dapur rumah gue, sambil sendok masih tergeletak di lantai.

Kalau kamu ortu baru yang ngerasain hal yang sama — bingung antara "dulu gue digebok dan gue baik-baik aja" vs "sekarang katanya jangan marahin anak" — artikel ini buat kamu. Bukan buat nyalahin siapa-siapa, tapi buat bantu kamu milih dengan kepala dingin.

Kenapa Dua Kutub Ini Sama-Sama Bikin Pusing

Gue nggak mau pura-pura netral. Menurut gue, cara ngasuh zaman dulu punya sisi yang nggak bisa dibela, terutama soal kekerasan fisik dan ancaman. Tapi gentle parenting yang dipahami setengah-setengah juga bisa jadi jebakan.

Contohnya gue sendiri. Awal-awal gue baca soal gentle parenting, gue jadi takut banget ngasih batasan. Anak gue lempar makanan, gue bilang, "Kayaknya kamu lagi nggak suka ya." Anak gue mukul, gue peluk sambil bilang, "Kamu lagi sedih ya." Hasilnya? Anak gue makin sering mukul, dan gue makin sering nangis di kamar mandi.

Nah, di sinilah banyak ortu baru nyerah dan balik ke pola lama. "Ah, gentle parenting nggak cocok buat anak gue." Padahal masalahnya bukan di konsepnya, tapi di cara kita nerapin.

"Disiplin tanpa hubungan itu cuma hukuman. Hubungan tanpa batasan itu cuma kekacauan."

Yang Sebenarnya Beda dari Dua Pendekatan Ini

Gue suka nyederhanain begini: pola asuh lama fokus ke kepatuhan, gentle parenting yang bener fokus ke pemahaman. Dua-duanya pengen anak nurut, tapi jalannya beda.

Pola lama bilang: "Kalau kamu nggak nurut, kamu dihukum." Anak nurut karena takut. Jangka pendeknya efektif banget — anak langsung diem. Tapi jangka panjangnya, anak belajar bahwa yang lebih besar boleh maksa yang lebih kecil, dan bahwa marah itu harus disembunyiin.

Gentle parenting yang bener bilang: "Aku ngerti kamu marah, tapi aku nggak bisa biarin kamu mukul." Anak tetap dapet batasan, tapi nggak dikasih rasa malu. Bedanya tipis di atas kertas, tapi kerasa banget di praktiknya.

Yang Sering Kelewat: Gentle Parenting Bukan Berarti Nggak Boleh Tegas

Ini miskonsepsi paling umum. Banyak ortu baru mikir gentle parenting = selalu lembut, selalu iya, nggak boleh bikin anak nangis. Salah besar.

Anak boleh nangis. Anak boleh kecewa. Yang nggak boleh itu kita nyerahin batasan cuma karena anak nangis. Kalau anak nangis terus kita kasih HP biar diem, itu bukan gentle parenting — itu menghindari konflik.

Cara Praktis Milih di Antara Dua Kutub

Oke, sekarang bagian yang kamu tunggu. Ini yang gue pelajarin dari trial and error, plus baca-baca dan nanya ke temen yang lebih berpengalaman.

  • Ambil batasannya, buang hukumannya. Kamu tetap butuh aturan rumah — nggak boleh mukul, nggak boleh lempar makanan. Tapi cara ngegaknya nggak perlu pakai ancaman atau kekerasan.
  • Validasi perasaan, bukan perilaku. "Kamu marah karena mainannya diambil, itu wajar. Tapi kamu nggak boleh gigit." Dua kalimat ini beda banget efeknya dibanding "Jangan nangis, ah!"
  • Konsisten itu lebih penting daripada lembut. Anak lebih bingung kalau hari ini boleh, besok nggak boleh, daripada kalau kamu tegas tapi stabil.
  • Jangan lupa diri sendiri. Gentle parenting itu berat. Kalau kamu capek dan udah di ujung kesabaran, minta tolong pasangan atau istirahat sebentar. Kamu nggak bisa ngasih ketenangan kalau kamu sendiri panik.

Gue juga mau jujur: gue nggak selalu berhasil. Kadang gue masih naik suara. Kadang gue masih pengen nyubit kayak ibu gue dulu. Tapi bedanya, sekarang gue tau harus ngapain setelahnya — minta maaf, jelasin, dan coba lagi besok.

Jadi, Pilih yang Mana?

Gue nggak akan bilang gentle parenting itu sempurna, dan gue juga nggak akan bilang pola asuh zaman dulu itu sepenuhnya salah. Banyak nilai dari orang tua kita yang layak dibawa — kerja keras, hormat, dan ketahanan. Tapi cara ngegaknya yang perlu kita perbarui.

Kalau kamu ortu baru dan masih bingung, saran gue sederhana: mulai dari satu hal. Pilih satu perilaku anak yang paling bikin kamu frustrasi, dan coba hadapi dengan pendekatan yang lebih tenang selama seminggu. Nggak usah langsung jadi "ortu gentle parenting sejati". Nggak ada yang begitu.

Yang penting, kamu nggak harus milih 100% kiri atau 100% kanan. Kamu boleh ambil yang terbaik dari dua dunia itu, sambil terus belajar. Dan kalau hari ini gagal, besok masih ada kesempatan buat coba lagi. Anak kamu nggak butuh ortu yang sempurna — dia cuma butuh ortu yang mau terus hadir dan belajar.

===
Tags: gentle parenting pola asuh ortu baru disiplin anak parenting Indonesia

Baca juga: Aku Dulu Bingung Pilih Bedong atau Sleep Sack buat Bayi

Baca juga: Anak Mulai Berjarak? Coba 7 Hari Rutinitas Sederhana Ini