Jadi mahasiswa perantau itu kayak hidup di dua dunia. Di satu sisi kamu harus mandiri — masak sendiri, atur uang sendiri, ngerjain tugas tanpa ada yang bangunin. Tapi di sisi lain, HP kamu masih bunyi tiap hari: "Udah makan belum?", "Kok nggak video call?", "Nilai kamu kok turun?"
Nah, di titik itulah gue sadar sesuatu. Pola asuh ortu nggak berhenti pas kamu lulus SMA dan naik bus ke kota lain. Dia ikut nempel, cuma bentuknya berubah. Dan buat kamu yang jauh dari rumah, ada tanda-tanda tertentu yang sebaiknya kamu waspadai sejak awal — bukan buat nyalahin ortu, tapi biar kamu nggak tumbang di tengah jalan.
Baca juga: Stop Panik, 7 Pertanyaan Wajib Ortu Baru Ini Jawabannya
Kenapa Anak Rantau Justru Rentan?
Gue pernah ngalamin masa di mana tiap telepon dari nyokap rasanya kayak sesi interogasi. Bukan karena dia jahat, tapi karena dia nggak punya cara lain buat nunjukin sayang. Masalahnya, gue yang lagi capek kuliah plus kerja part-time jadi ikut kebawa stres.
Anak rantau itu posisinya unik. Kamu udah nggak sepenuhnya anak yang diatur, tapi belum juga sepenuhnya orang dewasa yang dilepas. Di celah itulah pola asuh yang nggak sehat gampang kelihatan — dan gampang bikin kamu bingung: ini bentuk perhatian atau kontrol?
Ada beberapa tanda yang menurut gue perlu kamu perhatiin sejak awal. Bukan buat nge-judge ortu, tapi buat kamu siapin batasan yang sehat.
Tanda-Tanda yang Sering Nggak Disadari
1. Komunikasi yang Selalu Berujung pada Uang atau Nilai
Coba inget-inget lagi. Tiap ortu telepon, topiknya apa aja? Kalau 80 persen isinya soal transferan, IPK, atau "kapan pulang", itu tanda awal yang lumayan serius. Bukan berarti ortu matre, tapi perhatiannya jadi transaksional. Kamu mulai merasa dicintai cuma kalau performa akademik atau finansial kamu aman.
Efeknya? Kamu jadi nggak berani cerita hal lain. Lagi sedih, nggak bisa ngomong. Lagi seneng karena dapet proyek kecil, juga nggak bisa share karena takut dianggap nggak fokus kuliah.
2. Rasa Bersalah yang Dipelihara
Ini yang paling halus dan paling sering kejadian. Kalimat kayak "Kamu tega ya ninggalin ibu sendirian" atau "Bapak kerja keras buat kamu, lho" — diucapin sekali dua kali masih wajar. Tapi kalau jadi menu harian, itu udah masuk wilayah guilt-tripping.
Anak yang terus dibikin merasa berutang nggak akan tumbuh mandiri, dia cuma tumbuh jadi tukang minta maaf.
Gue pernah ngerasa bersalah cuma karena nggak bisa pulang pas lebaran. Padahal tiketnya mahal dan jadwal ujian mepet. Tapi ortu nggak lihat itu — yang mereka lihat cuma "anak nggak pulang".
3. Keputusan Kecil pun Harus Lapor
Mau ganti jurusan, mau ikut organisasi, mau ngekos di mana, mau kerja sampingan apa — semua harus lewat persetujuan ortu. Kalau kamu udah umur 20-an dan masih nggak bisa milih kos sendiri tanpa drama, itu bukan tanda sayang. Itu tanda kontrol yang belum dilepas.
Apa yang Bisa Kamu Lakuin dari Jauh
Kabar baiknya, kamu nggak harus nunggu ortu berubah dulu buat ngerasa lebih tenang. Ada beberapa hal praktis yang bisa kamu mulai dari kosan.
- Bikin batasan komunikasi yang jelas. Misal, telepon tiap Minggu malam aja, bukan tiap hari. Kasih tahu baik-baik, bukan kabur.
- Pisahkan perhatian dari uang. Kalau bisa, mulai kelola finansial sendiri sedikit-sedikit biar obrolan nggak melulu soal transferan.
- Cerita hal-hal kecil. Sering kali ortu overprotektif karena mereka nggak tahu kehidupan kamu di rantau. Share hal receh — makanan, teman, dosen galak — biar mereka ngerasa masih terlibat tanpa harus ngatur.
- Cari support system di kota rantau. Teman kos, komunitas kampus, atau konselor kampus. Kamu butuh orang yang bisa dengerin tanpa bikin kamu ngerasa bersalah.
Yang paling penting: kamu nggak perlu nunggu sampai hubungan sama ortu rusak baru sadar ada yang salah. Tanda-tanda itu biasanya udah muncul dari awal — cuma kamu sering mengabaikannya karena mikir "ah, namanya juga ortu".
Gue sendiri butuh waktu lama buat ngerti bahwa menjaga jarak sehat sama ortu bukan berarti durhaka. Justru dengan batasan yang jelas, hubungan jadi lebih jujur. Kamu nggak lagi bohong bilang "aman" padahal lagi kacau, dan ortu nggak lagi nuntut kamu jadi versi anak yang mereka bayangin.
Jadi, buat kamu yang lagi ngerantau — kenali tandanya dari sekarang. Bukan buat menjauh, tapi buat belajar dewasa dengan cara yang sehat. Karena jadi mandiri itu bukan cuma soal bisa masak atau bayar kos sendiri, tapi juga soal berani ngomong "ini batasanku" ke orang yang paling kamu sayang.