Sabtu, 24 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Tumbuh Kembang AchaTumbuh Kembang Acha
Tumbuh Kembang Acha - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Diam-diam Anak Jadi Tukang Bantah, Ternyata Ortu S...

Diam-diam Anak Jadi Tukang Bantah, Ternyata Ortu Sering Bilang Ini

Anak yang suka membantah bukan berarti durhaka. Sering kali cermin dari cara kita ngomong sehari-hari di rumah.

Diam-diam Anak Jadi Tukang Bantah, Ternyata Ortu Sering Bilang Ini

Anak saya yang kedua, umurnya baru tujuh tahun. Suatu sore dia disuruh ibunya mandi, tapi dia cuma diam sambil main lego. Ditegur sekali, dia jawab: "Ibu aja tadi nggak mandi pagi." Saya yang lagi baca koran langsung kaget. Bukan karena dia berani, tapi karena kalimatnya persis kayak yang sering saya ucapkan ke istri kalau lagi males berangkat kerja.

Kejadian itu bikin saya mikir keras. Di kampung kami, anak yang membantah ortu biasanya langsung dicap "kurang ajar". Tapi kok ya, setelah saya perhatikan beberapa keluarga tetangga, anak yang paling sering ngeles justru anak yang ortunya paling sering ngomel dengan kalimat "kamu tuh nggak pernah bisa", "makanya dengerin", atau "ayah nggak mau tahu".

Jadi tulisan ini bukan mau sok tahu soal parenting. Saya cuma warga desa biasa yang lagi belajar. Tapi dari pengalaman sendiri dan ngobrol sama beberapa ortu di posyandu, ada pola yang kelihatan jelas: cara anak membantah itu sering meniru cara kita berbicara ke dia.

Baca juga: Gimana Cara Ngasuh Cucu Tanpa Ikut Campur Terlalu Dalam?

Kalimat yang tanpa sadar kita tiru ke anak

Waktu saya coba catat percakapan di rumah selama seminggu, hasilnya agak memalukan. Ada beberapa kalimat yang saya ucapkan ke anak, dan beberapa hari kemudian kalimat itu balik ke saya dengan bentuk yang lebih kasar.

  • "Kamu tuh nggak pernah..." — Saya sering bilang "kamu nggak pernah mau dengerin". Eh, anak malah bilang "Ayah nggak pernah main sama aku". Sakit tapi bener.
  • "Makanya..." — Kalimat yang selalu dibuka dengan "makanya" itu terdengar kayak nyalahin. Anak jadi belajar bahwa kalau ada masalah, tugasnya adalah mencari siapa yang salah, bukan cari solusi.
  • "Ayah nggak mau tahu" — Ini yang paling parah. Saya ucapkan waktu capek pulang dari sawah. Anak dengar itu sebagai "kalau aku ada masalah, nggak ada yang mau dengerin".
  • Nada tinggi sebelum isi kalimat — Kadang isinya biasa, tapi nadanya sudah kayak mau marah. Anak jadi fokus ke nadanya, bukan ke pesannya.

Yang menarik, anak-anak di desa kita ini jarang dapat contoh bicara asertif. Mereka dapat contoh dari kita, dari TV, dari grup WA keluarga yang isinya debat. Jadi kalau kita nggak sengaja ngajarin cara ngomong yang baik, ya mereka belajar dari yang ada.

Kenapa anak di kampung lebih gampang "membantah"

Ini opini saya sendiri, mungkin nggak semua setuju. Anak di kota kecil atau desa itu tumbuh di lingkungan yang sangat terbuka. Mereka dengar semua percakapan orang dewasa — di warung, di teras, di acara hajatan. Mereka tahu kalau Pak RT lagi ribut soal dana, mereka tahu Bu Ani sama Bu Sri lagi nggak cocok.

Artinya, anak-anak kita ini sebenarnya sudah terlatih mendengar argumen. Cuma mereka belum terlatih menyampaikannya dengan sopan. Jadi ketika mereka membantah ortu, itu bukan bentuk pembangkangan, tapi bentuk latihan berargumen yang belum ada panduannya.

Anak yang berani bilang "nggak setuju" sebenarnya sedang menunjukkan bahwa dia percaya hubungan kita cukup aman untuk berdebat. Kalau dia diam total, justru itu yang perlu kita khawatirkan.

Saya pernah ngobrol sama guru SD di kampung kami. Katanya, anak yang di rumah nggak pernah dilibatkan dalam keputusan kecil — mau makan apa, mau pakai baju apa — biasanya lebih gampang meledak di sekolah. Karena di rumah dia nggak pernah belajar "menolak dengan cara yang aman".

Satu kebiasaan kecil yang saya coba

Sejak kejadian lego itu, saya coba satu hal sederhana: sebelum menyuruh, saya jelaskan alasannya dalam satu kalimat. Bukan ceramah panjang, cukup satu kalimat. "Mandinya sekarang ya, soalnya nanti sore kita ke rumah nenek." Ajaib, protesnya jauh berkurang.

Kalau dia tetap membantah, saya coba tanya balik: "Kamu nggak mau karena apa?" Bukan untuk menuruti semua permintaan, tapi supaya dia belajar bahwa alasan itu boleh disampaikan. Kadang jawabannya sepele — "belum selesai bikin robot" — dan saya bisa kasih waktu lima menit lagi. Kadang juga jawabannya nggak masuk akal, dan di situ saya tetap tegas.

Yang penting, tegasnya bukan dengan nada tinggi, tapi dengan kalimat pendek yang jelas. "Lima menit lagi, habis itu mandi. Ayah tunggu di kamar mandi." Selesai. Nggak perlu debat panjang.

Yang bisa dicoba minggu ini

Nggak perlu ikut seminar atau baca buku tebal. Cukup tiga langkah kecil yang bisa kamu coba di rumah, terutama buat yang tinggal di kampung kayak saya.

  • Rekam suara sendiri sekali saja. Waktu lagi menegur anak, coba rekam pakai HP (diam-diam, buat diri sendiri). Dengerin ulang malamnya. Saya jamin kamu bakal kaget sama nada bicaramu sendiri.
  • Ganti satu kalimat "kamu tuh..." jadi "ayah/ibu merasa...". Contoh: dari "kamu bikin rumah berantakan" jadi "ayah capek kalau lihat mainan berserakan". Anak lebih bisa mencerna yang terakhir karena nggak terasa menyerang.
  • Beri satu pilihan, bukan perintah. "Mau mandi sekarang atau habis iklan ini?" Ini kelihatan sepele, tapi anak merasa punya kendali. Dan biasanya dia pilih yang kita mau.

Saya nggak bilang cara ini langsung berhasil. Anak saya masih suka membantah kok, apalagi kalau lagi capek atau lapar. Tapi setidaknya sekarang saya tahu, kalau dia ngomong kasar, saya bisa tanya diri sendiri dulu: kalimat itu dapat dari mana?

Di kampung kita, omongan tetangga memang sering ikut campur. "Anakmu kok berani ya sama bapaknya." Kadang bikin kita jadi ikut marah biar kelihatan tegas di depan orang. Padahal urusannya bukan penampilan di depan tetangga, tapi bagaimana anak kita belajar ngomong dengan baik sampai dia besar nanti.

Kalau kamu pernah ngerasa anakmu kok makin susah diatur, coba deh dengerin dulu cara kamu ngomong ke dia hari ini. Bisa jadi jawabannya ada di situ, bukan di anaknya.

Tags: parenting komunikasi anak pola asuh keluarga anak membantah